Ada nggak Yupiers yang tiap kali stres dari pekerjaan langsung jajan kue dan dessert manis lain? Atau lagi bosan di rumah lalu otomatis jalan ke dapur cari camilan?
Sebenarnya, nggak lapar sih cuma gatel aja pengen makan saja. Hal ini bisa jadi emotional eating, keinginan makan yang dipicu oleh emosi tertentu. Makanan jadi cara mengelola perasaan, seringnya perasaan yang kurang nyaman.
Hal ini dialami cukup banyak orang lho, Yupiers. Kali ini kita akan belajar bareng apa itu emotional eating, apa saja tandanya, dan yang paling penting bagaimana kita bisa mengelolanya dengan lebih baik.
Apa Itu Emotional Eating?
Menurut Harvard Health, emotional eating adalah kebiasaan makan yang dipicu oleh emosi, bukan rasa lapar fisik. Artinya, seseorang makan bukan karena tubuh membutuhkan energi, melainkan karena sedang merasakan emosi tertentu seperti stres, sedih, bosan, atau bahkan senang.
Dalam kondisi ini, makanan sering dijadikan sebagai “pelarian” untuk memperbaiki suasana hati. Tidak heran jika banyak orang tiba-tiba ingin makan sesuatu saat stres meningkat atau saat merasa bosan.
Biasanya, makanan yang dipilih saat emotional eating adalah jenis comfort food seperti makanan manis, gurih, atau tinggi kalori. Hal ini terjadi karena makanan tersebut bisa memicu pelepasan hormon dopamin di otak yang memberikan rasa nyaman secara instan.
Kata kunci dari emotional eating adalah impuls. Kita tanpa sadar memilih makan ketika merasakan suatu emosi. Bukan pingsan, maksudnya tanpa sadar di sini kita tidak sempat menyadari apakah lapar atau sedang stres.
Hal ini juga menjadi kunci untuk mengatasi emotional eating. Kita perlu belajar mengelola perasaan kita. Bukan hanya tentang memilih pola makanan atau jenis makanan yang lebih baik.
Penyebab Emotional Eating yang Perlu Dipahami
Agar bisa mengatasi emotional eating, penting untuk memahami penyebabnya terlebih dahulu. Berikut beberapa faktor yang paling umum:
1. Stres dan Tekanan
Stres adalah pemicu utama emotional eating. Saat stres, tubuh cenderung mencari cara cepat untuk merasa lebih baik, salah satunya melalui makanan.
2. Kebiasaan yang Terbentuk Sejak Lama
Jika sejak dulu kamu terbiasa “dihibur” dengan makanan (misalnya saat kecil diberi snack saat sedih), pola ini bisa terbawa hingga dewasa.
3. Rasa Bosan
Banyak orang ngemil bukan karena lapar, tapi karena tidak ada aktivitas lain. Ini sering terjadi saat di rumah atau saat waktu luang.
4. Kurangnya Kesadaran (Mindless Eating)
Ini jadi salah satu tanda paling signifikan. Makan sambil scroll media sosial atau nonton sering membuat kita tidak sadar sudah makan berapa banyak.
Baca juga: Ngemil Tanpa Drama: Coba S.N.A.C.K. Method Biar Lebih Mindful
Ciri-Ciri Emotional Eating yang Mudah Dikenali
Membedakan antara lapar fisik dan lapar emosional adalah kunci penting. Berikut beberapa tanda emotional eating:
1. Rasa Lapar Datang Tiba-Tiba
Lapar emosional muncul mendadak dan terasa mendesak, berbeda dengan lapar fisik yang datang secara bertahap. Bisa juga dorongan makan terjadi di luar jam makan kamu pada umumnya.
2. Craving Makanan Tertentu
Biasanya muncul keinginan spesifik, seperti makanan manis atau gurih. Biasanya keinginan makan yang spesifik ini terkait dengan comfort food-mu.
Kalau kamu lagi pengen makanan manis, Yupi CDZ bisa jadi pilihan yang manis, punya tekstur yang asik, dan diperkaya dengan vitamin yang baik untuk tubuhmu.
3. Makan Tanpa Sadar
Kamu makan sambil melakukan hal lain, dan tiba-tiba makanan sudah habis tanpa benar-benar dinikmati.
4. Tetap Makan Meski Sudah Kenyang
Emotional eating memang bukan dorongan ingin makan karena lapar. Dorongan ini muncul ketika kamu merasakan emosi yang kuat, seperti stres, bosan, atau sedih. Tujuannya bukan mengisi perut, tapi meredakan emosi.
5. Muncul Rasa Bersalah Setelah Makan
Ini adalah salah satu indikator paling jelas dari emotional eating. Jika tidak dikelola dengan baik, dalam jangka panjang emotional eating bukan hanya memengaruhi kesehatan fisik yang terkait dengan berat badan, tetapi juga bisa berdampak pada kesehatan mental dan hubungan kita dalam memandang makanan.
Dampak Emotional Eating bagi Kesehatan
Emotional eating yang terjadi sesekali sebenarnya normal. Yang berbahaya adalah apabila sudah menjadi kebiasaan yang berlarut. Beberapa dampak kesehatan yang mungkin muncul seperti:
- Kenaikan berat badan
- Pola makan yang tidak seimbang
- Ketergantungan pada makanan sebagai coping mechanism
- Hubungan yang kurang sehat dengan makanan
Oleh karena itu, penting untuk mulai mengelola emosi dengan cara yang lebih sadar. Harapannya, dengan begitu, emotional eating juga lebih bisa dikelola.
Baca juga: Bukan Cuma Air Putih, Ini Alasan Kenapa Recovery Snack Wajib Ada Sehabis Olahraga
Cara Mengatasi Emotional Eating dengan Lebih Sehat
Mengatasi emotional eating tidak harus dilakukan secara ekstrem. Justru pendekatan yang realistis dan konsisten akan lebih efektif.
1. Kenali Trigger Emosi
Langkah pertama adalah memahami apa yang memicu kebiasaan ini. Apakah karena stres kerja, bosan, atau sedih?
Dengan mengenali polanya, kamu bisa lebih siap menghadapi situasi tersebut.
2. Ambil Jeda Sesaat Sebelum Makan
Coba berhenti sejenak sebelum makan dan tanyakan pada diri sendiri, “Apakah aku merasa fisik atau hanya ingin kabur dari perasaan tertentu?”
Kebiasaan sederhana ini bisa membantu meningkatkan kesadaran.
3. Tetap Ngemil, Tapi Lebih Mindful
Menghindari camilan sepenuhnya justru sering membuat keinginan makan semakin besar. Solusinya adalah tetap ngemil, tapi dengan cara yang lebih sadar:
- Pilih porsi kecil
- Makan tanpa distraksi
- Nikmati setiap kunyahan dengan penuh syukur
Memilih camilan yang praktis dan lebih terkontrol seperti Yupi Fruit Bites bisa menjadi solusi agar tetap bisa menikmati ngemil tanpa berlebihan. Yupi Fruit Bites tersedia dalam kemasan kecil sehingga bantu kamu nggak kalap mengemil.
4. Bangun Coping Mechanism yang Sehat Selain Makan
Seperti sudah dijelaskan di atas, mengatasi emotional eating dapat dilakukan dengan menemukan coping mechanism terhadap stres yang lebih sehat, bukan makan. Beberapa aktivitas lain yang dapat dicoba:
- Jalan santai
- Mencoba hobi baru
- Mendengarkan musik
- Mengobrol dengan teman
Tidak perlu langsung sempurna, yang penting ada opsi selain makan.
5. Bangun Pola Makan yang Seimbang
Pastikan kebutuhan nutrisi harian terpenuhi agar tubuh tidak “menuntut” makanan secara berlebihan.
Terpenuhinya makro dan mikronutrisi juga akan membantu kamu punya mental yang lebih sehat. Hal ini tentu mengurangi impuls emotional eating.
6. Jangan Terlalu Keras pada Diri Sendiri
Jika kamu sudah bertekad untuk memperbaiki kebiasaan emotional eating, namun masih ada saatnya kelepasan ketika stres menumpuk, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Itu bukan kegagalan. Memperbaiki kebiasaan adalah proses.
Alih-alih menyalahkan diri sendiri, fokuslah pada perbaikan kecil yang bisa sedikit demi sedikit terus dilakukan ke depannya.
Selama ini ada kesalahpahaman: camilan sering dianggap sebagai penyebab utama emotional eating. Padahal, mestinya bukan camilan yang menjadi fokus jika kita ingin memperbaiki kebiasaan emotional eating.
Paling penting dalam mengelola emotional eating adalah validasi perasaan dan menemukan coping mechanism pada stres yang lebih baik.
Namun demikian, memilih camilan yang tepat dan mengontrol porsi, ngemil tetap bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat.
Yupi Fruit Bites Teman Nyemil dengan Porsi Kecil
Camilan kecil yang enak dengan porsi pas bisa membantu kamu mengontrol emotional eating. Yupi Fruit Bites dan Yupi CDZ siap menemanimu belajar ngemil dengan lebih mindful. Menjaga keseimbangan antara menikmati makanan dan mengontrol kebiasaan makan juga bisa menyenangkan bareng Yupi.
