menu
logo mobile
sound
Yupi Surprise Yupiland Store Meet Your Heroes Collaborations Blog What's Happening Our Story Cool Pics Here Say Hi! FAQ It's Game Time Terms & Condition

Sejarah Hari Kartini

Hi Yupiers!

Hi Yupiers!

Sebelum Yumin ngajak Yupiers masuk ke cerita sejarah hari Kartini yang penuh makna, Yumin mau kasih rekomendasi cemilan yang bisa jadi teman baca yang menyenangkan, yaitu Yupi Minimonz 3D. Karena #SemuaSukaYupi, jadi Yupi kali ini mengeluarkan gummy terbaru yang berbentuk mini dinosaurus 3D lucu, dengan rasa mix fruit yang manis dan segar, teksturnya kenyal khas Yupi, dan tampilannya warna-warni bikin mood jadi lebih menyenangkan. Oke, kalau Yupiers udah siapin Yupi Minimonz 3D, saatnya kita mulai membahas sejarah hari Kartini!

Kalau tiap tanggal 21 April Yupiers lihat orang-orang pakai kebaya, sanggul, atau baju adat di sekolah dan kantor, itu karena kita sedang memperingati Hari Kartini. Tapi, Kartini bukan sekadar simbol pakaian yang dipakai tahunan ya, Yupiers! Di balik nama Kartini, ada kisah tentang perempuan muda yang berpikir jauh melampaui zamannya. Sebenarnya, Kartini itu siapa sih?

Nama lengkapnya adalah Raden Ajeng Kartini. Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879, dari keluarga bangsawan Jawa atau disebut juga sebagai priyayi. Status bangsawan ini bikin Kartini punya akses pendidikan yang lebih baik dibanding banyak perempuan lain saat itu. Kartini sempat sekolah di ELS (Europese Lagere School), jadi ia bisa membaca, menulis, dan bahkan memahami bahasa Belanda. Nah, di sinilah uniknya. Kartini punya kemampuan yang jarang dimiliki perempuan pada masanya. Tapi justru setelah itu, hidupnya mulai terasa sempit. 

Di budaya Jawa saat itu, anak perempuan bangsawan biasanya akan dipingit ketika memasuki usia remaja. Artinya, ruang geraknya dibatasi dan aktivitasnya lebih banyak di rumah sambil menunggu waktu menikah. Buat Kartini yang sudah terbiasa belajar di sekolah dan punya rasa ingin tahu yang besar, aturan ini pasti sulit karena ia merasa terkurung dan tidak bisa melakukan banyak hal. Tapi Kartini tidak diam. Karena tidak bisa pergi keluar, dia memilih pergi jauh lewat bacaan. Kartini membaca buku, koran, majalah, dan mulai memikirkan banyak hal seperti Kenapa perempuan dibatasi? Kenapa pendidikan hanya untuk sebagian orang? Kenapa perempuan harus pasrah?

Dari kebiasaan membaca dan hasil pemikirannya, Kartini dikenal luas karena surat-suratnya. Ia banyak berkirim surat dengan teman-teman korespondensi di Belanda. Dari situ, Kartini menuangkan keresahan dan ide-idenya tentang pendidikan perempuan, pernikahan, kebebasan berpikir, sampai kondisi sosial masyarakat. Yang menarik, Kartini tidak menulis dengan gaya pahlawan yang selalu kuat. Tulisan Kartini itu manusiawi. Kadang idealis, kadang sedih, kadang marah, kadang sangat berharap. Tapi justru itu yang bikin pesannya sampai, ia bukan tokoh yang sempurna, ia adalah anak muda yang sedang melawan batasan dengan pemikirannya. Surat-surat itulah yang kemudian dikumpulkan dan dibukukan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Judulnya sudah menggambarkan bagaimana kehidupan dari sisi yang gelap di tengah keterbatasan, menuju terang yang memberikan pengetahuan dan membawa perubahan.

Kartini bukan tipe yang cuma menulis lalu selesai. Ia punya cita-cita nyata bahwa perempuan harus bisa sekolah. Ia ingin perempuan punya kesempatan belajar supaya punya pilihan hidup, bukan sekadar hidup mengikuti arus. Kartini menikah pada tahun 1903 dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang. Banyak orang mengira menikah akan menghentikan perjuangannya. Tapi Kartini tetap berusaha mewujudkan gagasannya, termasuk membuka ruang pendidikan untuk perempuan di lingkungan sekitarnya. Sayangnya, Kartini wafat muda pada 17 September 1904, setelah melahirkan anak pertamanya. Usianya baru 25 tahun. Tapi ide-idenya sudah terlanjur menyebar, dan itu yang bikin Kartini terus hidup dalam sejarah.

Lalu, kenapa Hari Kartini diperingati setiap 21 April? Karena 21 April adalah tanggal kelahiran Kartini. Hari Kartini ditetapkan secara resmi di Indonesia sebagai hari peringatan nasional pada era Presiden Soekarno di tahun 1960-an. Tujuannya jelas, untuk mengingatkan bahwa perjuangan perempuan Indonesia untuk pendidikan dan kesetaraan itu punya akar sejarah yang kuat. 

Buat Yumin, Hari Kartini itu bukan tentang perempuan harus bisa ini dan itu, tapi tentang punya kesempatan yang setara untuk berkembang. Kartini memperjuangkan akses pendidikan karena ia tahu kalau orang bisa belajar, cara pandangnya akan berubah. Dan kalau cara pandang berubah, hidup bisa berubah. Jadi kalau hari ini Yupiers bisa sekolah, kerja, berkarya, memilih jalan hidup, dan bersuara, itu bukan hal yang muncul begitu saja. Karena ternyata ada sejarah panjang yang dilakukan oleh Kartini di belakangnya. 

Semangat Yupiers untuk terus membawa nilai-nilai perjuangan Kartini di masa kini. Selamat Hari Kartini!
Home Our Story Events Games Profile