Yupiers, pernah dengar pepatah "Mulutmu, Harimaumu"? Pepatah ini mengingatkan kita bahwa ucapan itu punya kekuatan yang dahsyat; bisa menyembuhkan, tapi bisa juga menghancurkan. Nah, di tanah Sumatra Selatan, ada satu legenda yang benar-benar memanifestasikan pepatah ini secara harfiah. Dialah Si Pahit Lidah.
Banyak yang mengira Si Pahit Lidah hanyalah sosok menyeramkan yang suka mengutuk orang jadi batu. Eits, tunggu dulu! Cerita rakyat dari daerah Besemah, Sumatra Selatan ini sebenarnya punya layer psikologis yang dalam banget. Tokoh utamanya, Pangeran Serunting, adalah contoh nyata karakter anti-hero yang mengalami perjalanan spiritual luar biasa: dari seorang bangsawan yang dikuasai ego dan iri hati, menjadi pertapa sakti yang menggunakan kekuatannya untuk kemaslahatan umat.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa "kesaktian" sesungguhnya bukan terletak pada otot atau sihir, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri dan berbaik sangka. Kalau Yupiers suka dengan dinamika perseteruan sengit di cerita asal usul kota Surabaya, kalian pasti akan tegang mengikuti duel Pangeran Serunting. Dan jika kalian terharu dengan transformasi magis di cerita rakyat Nyi Roro Kidul, perjalanan pertapaan Serunting akan menyentuh hati kalian.
Siap menyelami Bumi Sriwijaya? Yuk, kita simak kisahnya!
Kenalan dengan Para Tokoh dan Simbolismenya
Sebelum masuk ke drama kolosal ini, mari kita bedah motivasi para pemainnya:
- Pangeran Serunting (Si Pahit Lidah): Simbol Redemption (Penebusan). Awalnya ia mewakili sifat manusiawi yang buruk: serakah dan mudah iri (insecurity). Namun, ia belajar bahwa kekuatan besar menuntut tanggung jawab besar.
- Aria Tebing: Simbol Kecerdikan & Ketenangan. Sebagai rakyat biasa yang harus melawan raksasa (bangsawan), ia menggunakan otak, bukan otot. Ia juga simbol pemaaf yang tulus.
- Siti: Simbol Dilema Moral. Istri Serunting sekaligus kakak Aria ini berada di posisi tersulit: harus memilih antara kesetiaan pada suami atau nyawa adik kandungnya. Keputusannya menjadi kunci perubahan takdir Serunting.
Kisah Lengkap: Dari Dendam Jamur Emas Menjadi Sabda Pandita Ratu
Iri Hati di Perbatasan Ladang
Alkisah, di daerah Sumidang, Sumatra Selatan, hiduplah seorang pangeran gagah perkasa bernama Serunting. Ia bukan orang sembarangan, konon darah raksasa mengalir di tubuhnya dari sang leluhur, Putri Tenggang. Serunting menikah dengan gadis desa yang lembut bernama Siti.
Siti memiliki seorang adik laki-laki bernama Aria Tebing. Mereka tinggal di sebuah gubuk sederhana dengan pekarangan luas warisan orang tua. Karena sayang pada istrinya, Serunting sering berkunjung ke sana. Namun, ia merasa perlu ada batas yang jelas.
"Aria," ujar Serunting suatu hari dengan nada berwibawa, "Agar tidak ada sengketa di kemudian hari, mari kita bagi lahan ini. Kita tanam pohon di tengahnya sebagai pembatas. Sisi ini milikku dan Siti, sisi sana milikmu."
Aria Tebing yang santun setuju, "Baik, Kanda Pangeran. Hamba ikut saja."
Beberapa bulan berlalu, keanehan terjadi. Di batang pohon pembatas itu tumbuh jamur.
Anehnya, jamur yang tumbuh mengarah ke lahan Aria Tebing berwarna kuning berkilauan. Itu adalah Cendawan Emas! Harganya mahal dan membuat Aria makmur.
Sebaliknya, jamur yang tumbuh mengarah ke lahan Serunting hanyalah jamur busuk yang tidak berguna dan bau.
Melihat nasib baik Aria, hati Serunting panas. Rasa iri membakar logikanya.
"Kau pasti curang, Aria!" tuduh Serunting dengan mata menyala. "Kau pasti memutar batang pohon ini saat malam hari agar jamur emas itu lari ke tempatmu, kan?!"
Aria mencoba membela diri, "Demi Tuhan, Kanda. Hamba tidak pernah menyentuh pohon itu."
Namun, Serunting yang sudah gelap mata tidak mau dengar. "Pembohong! Jika kau jantan, hadapi aku besok lusa. Kita bertarung sampai mati!"
Pengkhianatan Cinta demi Nyawa
Aria Tebing pulang dengan lutut gemetar. Bagaimana mungkin ia melawan Serunting? Pangeran itu sakti mandraguna, kebal senjata tajam. Melawannya sama saja bunuh diri.
Dalam keputusasaan, Aria memberanikan diri menyelinap ke istana menemui kakaknya, Siti.
"Kak, tolong aku," bisik Aria gemetar. "Suamimu ingin membunuhku karena jamur emas itu. Aku tidak mungkin menang. Beritahu aku, apa kelemahannya?"
Siti menangis. Ia mencintai suaminya, tapi ia tidak bisa membiarkan adik kandungnya mati konyol. Dengan hati hancur, ia membocorkan rahasia terbesar Serunting.
"Dengarlah, Adikku," ucap Siti lirih. "Kekuatan suamiku lenyap jika kau menombaknya pada ilalang yang bergetar meski tak ada angin. Itu adalah pusat kesaktiannya. Tapi berjanjilah, jangan bunuh dia. Hanya lumpuhkan saja."
Duel Berdarah di Padang Ilalang
Hari pertarungan tiba. Serunting datang dengan pedang terhunus, wajahnya penuh amarah. Aria Tebing berdiri waspada.
Serunting menyerang membabi buta. Aria yang lincah terus menghindar, matanya awas mencari "ilalang bergetar" yang dimaksud kakaknya.
Benar saja! Di antara ribuan rumput yang diam, ada satu ilalang yang bergoyang-goyang sendiri seolah menari.
Saat Serunting lengah, Aria mengambil tombaknya dan menusukkannya tepat ke ilalang tersebut.
JEGEER!
Langit seketika gelap. Pangeran Serunting menjerit kesakitan, seolah tombak itu menembus jantungnya sendiri, padahal Aria hanya menusuk rumput. Tubuh Serunting ambruk, kekuatannya sirna seketika.
Ia menatap Aria dengan tatapan tak percaya. "Hanya istriku yang tahu rahasia ini..." gumamnya pedih. "Kalian bersekongkol mengkhianatiku..."
Merasa dipermalukan dan dikhianati oleh orang-orang terdekatnya, Serunting pergi meninggalkan Sumidang. Ia mengasingkan diri, membawa dendam dan sakit hati yang mendalam.
Pertapaan di Gunung Siguntang
Serunting berjalan tanpa arah hingga tiba di kaki Gunung Siguntang. Ia bertekad untuk mendapatkan kekuatan yang jauh lebih dahsyat agar tidak ada lagi yang bisa mengalahkannya.
Ia mulai bertapa di bawah rumpun bambu. Tekadnya sekeras baja. Ia bersumpah tidak akan bangun sebelum tubuhnya tertutup sepenuhnya oleh daun bambu yang gugur.
Satu bulan... enam bulan... satu tahun...
Daun-daun bambu mulai menimbun tubuhnya. Ia tidak makan, tidak minum, hanya memusatkan pikiran. Situasi meditatif yang menyatu dengan alam ini mengingatkan kita pada nuansa magis di cerita rakyat Telaga Warna, di mana emosi manusia bisa menggerakkan alam semesta.
Setelah dua tahun, saat tubuhnya sudah lenyap di balik bukit daun bambu, terdengar suara menggelegar dari Sang Hyang Mahameru.
"Wahai Serunting! Tekadmu luar biasa. Mulai hari ini, aku turunkan ilmu Siduah padamu. Apapun yang kau ucapkan, akan menjadi kenyataan. Tapi ingat! Gunakan lidahmu dengan bijak, atau kau akan hancur lagi."
Serunting bangkit. Ia ingin menguji kekuatan barunya. Di tepi danau, ia melihat pohon tebu yang meranggas.
"Jadilah batu!" ucapnya.
Seketika, pohon tebu itu membeku menjadi batu keras. Serunting sadar, kini ia memiliki kekuatan paling mematikan: Ucapannya adalah kutukan. Sejak saat itu, ia dijuluki Si Pahit Lidah.
Kembalinya Sang Pangeran (Penebusan)
Serunting berjalan pulang ke Sumidang. Awalnya, ia berniat balas dendam. Namun, sepanjang perjalanan, ia melihat penderitaan rakyat. Ia melihat lahan tandus yang gersang di mana tidak ada tanaman bisa tumbuh.
Hati kecilnya tersentuh. "Apakah aku akan terus menjadi perusak?" batinnya.
Alih-alih mengutuk, Serunting berucap: "Jadilah hutan yang rimbun!"
WUSH! Dalam sekejap, lahan tandus itu berubah menjadi hutan belantara yang hijau dan subur. Hewan-hewan kembali datang.
Di desa lain, ia bertemu sepasang suami istri tua yang menangis karena tidak punya anak. Teringat akan kasih sayang keluarganya dulu, Serunting mencabut sehelai uban nenek itu.
"Jadilah seorang bayi," sabdanya.
Ajaib! Uban itu berubah menjadi bayi mungil yang menangis. Pasangan tua itu bersujud syukur.
Serunting akhirnya tiba di Sumidang. Aria Tebing dan Siti menyambutnya dengan ketakutan. Namun, Serunting yang sekarang bukanlah Serunting yang dulu. Ia tidak menghunus pedang. Ia justru merentangkan tangan.
"Maafkan aku, Adikku. Maafkan aku, Istriku," ucap Si Pahit Lidah dengan mata berkaca-kaca. "Keserakahan dan iri hatilah yang membuatku lemah. Kalian memberiku pelajaran berharga."
Aria Tebing dan Siti memeluknya. Dendam itu sirna, digantikan oleh kedamaian. Pangeran Serunting menghabiskan sisa hidupnya sebagai pelindung rakyat, menggunakan "lidah pahit"-nya hanya untuk kebaikan dan melawan kejahatan.
Makna Mendalam dan Pesan Moral
Kisah Si Pahit Lidah ini benar-benar epik, Yupiers. Transformasi karakternya mengajarkan kita banyak hal:
- Bahaya Insecurity dan Iri Hati: Serunting sebenarnya sudah hidup enak, tapi rasa iri pada rezeki orang lain (Aria) membuatnya kehilangan segalanya. Rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau jika kita tidak bersyukur.
- Kekuatan Memaafkan: Aria Tebing dan Siti bisa saja menolak Serunting kembali, tapi mereka memilih memaafkan. Perdamaian inilah yang membawa happy ending.
- Tanggung Jawab Kekuatan: Setelah mendapat kesaktian, Serunting bisa saja menghancurkan dunia. Tapi ia memilih menggunakannya untuk menumbuhkan hutan dan memberi kehidupan. Ini pelajaran bahwa power sejati adalah kemampuan mengendalikan diri.
Semoga legenda dari Bumi Sriwijaya ini menginspirasi Yupiers untuk selalu menjaga lisan dan hati, ya. Sampai jumpa di petualangan dongeng nusantara berikutnya!
Baca juga: Dongeng Cerita Rakyat Indonesia yang Terkenal & Menarik
