Hubungan pernikahan suami dan istri bisa berakhir, namun peran sebagai orang tua tidak otomatis ikut berakhir. Bagi pasangan yang memiliki anak, tantangannya adalah bagaimana tetap menjalankan tanggung jawab sebagai ayah dan ibu meski hubungan romantis sudah selesai. Di sinilah konsep co-parenting menjadi penting.
Co-parenting bukan berarti kedua orang tua harus selalu akur, sering bertemu, atau memiliki pola pengasuhan yang benar-benar sama. Intinya adalah bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan anak, sambil tetap menghormati batasan, kondisi, dan kesehatan masing-masing orang tua.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), anak cenderung lebih mampu beradaptasi setelah perpisahan ketika orang tua dapat mengurangi konflik, tetap terlibat secara positif dalam kehidupan anak, dan memberikan aturan serta rutinitas yang stabil.
Apa Itu Co-Parenting?
Co-parenting adalah pola pengasuhan ketika dua orang tua bekerja sama menjalankan tanggung jawab membesarkan anak, meskipun mereka sudah tidak menjadi pasangan. Setelah perceraian kedua orang tua misalnya, baik ayah maupun ibu tetap menjalankan peran dan tanggung jawabnya sebagai orang tua melalui co-parenting.
Yang menjadi pusat perhatian dalam co-parenting bukan lagi hubungan antara mantan pasangan, melainkan kebutuhan anak.
Artinya, keputusan mengenai sekolah, kesehatan, jadwal sehari-hari, kegiatan anak, aturan di rumah, hingga kebutuhan emosional sebaiknya dipertimbangkan berdasarkan kepentingan terbaik anak. American Psychological Association (APA) juga menekankan bahwa persoalan pengasuhan setelah perpisahan perlu diarahkan pada best interests of the child.
Namun, mengutamakan anak bukan berarti orang tua harus mengabaikan dirinya sendiri. Justru, co-parenting yang sehat membutuhkan dua orang dewasa yang mampu menjaga kondisi emosional, waktu, energi, dan batasan pribadinya.
Apa Manfaat Co-Parenting bagi Anak?
1. Membantu anak merasa lebih aman
Perpisahan dapat membawa banyak perubahan dalam kehidupan anak. Rumah mungkin berubah, jadwal berubah, bahkan lingkungan sosialnya bisa ikut berubah.
Kerja sama orang tua dapat memberikan rasa stabil karena anak tetap mengetahui bahwa kedua orang tuanya hadir dan peduli terhadap kehidupannya. AAP menyebutkan bahwa anak cenderung lebih baik ketika kedua orang tua tetap hadir secara positif dalam kehidupan mereka.
Baca Juga: Gentle Parenting: Apa Itu, Manfaat, dan Cara Menerapkannya
2. Mengurangi paparan konflik
Salah satu tujuan penting co-parenting adalah tidak menjadikan anak sebagai tempat berlangsungnya konflik orang dewasa.
Anak tidak seharusnya menjadi kurir pesan, hakim yang menentukan siapa yang benar, atau tempat orang tua mencurahkan kebencian kepada mantan pasangan. AAP dan Child Mind Institute sama-sama menekankan pentingnya melindungi anak dari pertengkaran dan konflik orang tua.
3. Memberikan aturan dan rutinitas yang lebih konsisten
Anak biasanya lebih mudah beradaptasi ketika kehidupan sehari-harinya memiliki struktur yang jelas. Karena itu, kedua orang tua sebaiknya menyepakati hal-hal mendasar seperti jadwal sekolah, waktu tidur, tanggung jawab, aturan penggunaan gadget, serta kebutuhan kesehatan.
Konsistensi tidak berarti kedua rumah harus identik. Yang penting, anak mendapatkan batasan dan ekspektasi yang cukup jelas di kedua lingkungan.
4. Mempertahankan hubungan positif dengan kedua orang tua
Selama keduanya merupakan pengasuh yang aman dan mampu menjalankan peran sebagai orang tua, anak mendapatkan manfaat ketika tetap memiliki hubungan yang positif dengan ayah dan ibunya.
Dengan demikian, co-parenting bukan tentang menentukan orang tua mana yang "menang", tetapi memastikan anak tidak kehilangan hubungan penting hanya karena hubungan kedua orang tuanya berakhir.
Tips Menjalankan Co-Parenting dengan Sehat
1. Jadikan kesejahteraan anak sebagai titik temu
Saat terjadi perbedaan pendapat, coba ubah pertanyaan dari "Apa yang aku mau?" menjadi "Apa yang paling dibutuhkan anak saat ini?"
Misalnya, ketika menentukan jadwal tinggal anak, pertimbangkan usia, sekolah, kebutuhan istirahat, aktivitas, hubungan dengan kedua orang tua, serta kemampuan masing-masing orang tua menjalankan jadwal tersebut.
Tetapi ingat, kepentingan anak tidak berarti semua permintaan anak harus dituruti. Orang tua tetap perlu membuat keputusan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Baca Juga: 10 Tips Parenting untuk Membentuk Karakter Baik pada Anak
2. Pisahkan hubungan sebagai pasangan dan sebagai orang tua
Kegagalan hubungan romantis tidak otomatis berarti seseorang gagal sebagai orang tua.
Mungkin masih ada rasa marah, kecewa, sedih, atau sakit hati terhadap mantan pasangan. Perasaan tersebut valid, tetapi sebisa mungkin jangan membawanya ke dalam setiap keputusan pengasuhan.
Hubungan sebagai pasangan boleh berakhir. Hubungan sebagai orang tua tetap perlu dikelola.
3. Buat komunikasi yang praktis dan jelas
Tidak semua pasangan yang berpisah mampu berkomunikasi dengan nyaman secara langsung. Karena itu, komunikasi tidak harus selalu berbentuk percakapan panjang.
Gunakan pesan tertulis atau aplikasi komunikasi bersama jika itu membuat interaksi lebih tenang. Fokuskan pembicaraan pada hal-hal yang berkaitan dengan anak: jadwal, sekolah, kesehatan, kebutuhan finansial, kegiatan, dan perubahan penting.
AAP juga menyarankan mediasi atau konseling ketika komunikasi langsung terlalu sulit dan konflik mulai menghambat pengambilan keputusan bersama.
4. Jangan menjadikan anak sebagai pembawa pesan
Hindari kalimat seperti, "Nanti bilang ke ayah kalau..." atau "Tanya ibu kenapa dia nggak mau bayar..."
Masalah antar orang dewasa sebaiknya diselesaikan oleh orang dewasa. Anak tidak perlu memikul tanggung jawab untuk memperbaiki komunikasi kedua orang tuanya.
5. Hormati batasan masing-masing
Inilah bagian yang sering dilupakan dalam pembahasan co-parenting: co-parenting sehat tidak sama dengan menghapus batas pribadi.
Kedua orang tua tetap memiliki kehidupan, pekerjaan, waktu istirahat, ruang pribadi, dan kebutuhan emosional masing-masing. Mereka tidak harus selalu tersedia untuk mantan pasangan.
Batas yang sehat bisa berupa kesepakatan mengenai jam komunikasi, cara membahas masalah, privasi rumah masing-masing, hingga keputusan mana yang harus didiskusikan bersama dan mana yang menjadi kewenangan masing-masing orang tua.
6. Jangan berebut gelar ‘orang tua favorit’
Kompetisi seperti siapa yang memberikan hadiah paling mahal, siapa yang lebih sering mengajak jalan-jalan, atau siapa yang paling disukai anak justru dapat membuat pengasuhan menjadi tidak sehat.
Anak membutuhkan orang tua yang hadir, konsisten, penuh kasih sayang, dan mampu memberikan batasan—bukan dua orang dewasa yang berlomba mendapatkan gelar "orang tua favorit".
7. Cari bantuan ketika konflik terlalu berat
Tidak semua situasi bisa diselesaikan hanya dengan komunikasi yang lebih baik. Jika konflik terus berulang, komunikasi berubah menjadi permusuhan, atau anak mulai menunjukkan perubahan perilaku yang mengkhawatirkan, bantuan profesional dapat diperlukan.
Konselor keluarga, psikolog, mediator, atau tenaga profesional lain dapat membantu membuat pola komunikasi dan pengasuhan yang lebih aman. Pada situasi dengan konflik tinggi, perlindungan terhadap anak harus menjadi prioritas utama.
Co-Parenting Sehat Tidak Harus Berarti Selalu Akur
Ada anggapan bahwa co-parenting yang sukses berarti kedua orang tua harus bisa berteman baik setelah berpisah. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.
Dua orang tua bisa saja tidak cocok secara pribadi, memiliki komunikasi yang terbatas, bahkan masih membutuhkan jarak emosional. Selama mereka mampu menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua, menjaga anak dari konflik, dan membuat keputusan yang mengutamakan kebutuhan anak, co-parenting tetap dapat berjalan.
Pada akhirnya, kesejahteraan anak adalah kompasnya, sementara batasan yang sehat adalah pagar pengamannya. Anak membutuhkan orang tua yang bekerja sama, tetapi anak juga membutuhkan orang tua yang sehat secara emosional dan tidak kehilangan dirinya sendiri demi mempertahankan hubungan pengasuhan.
Co-parenting bukan tentang membuat semua hal menjadi sempurna. Ini tentang menciptakan lingkungan yang cukup aman, stabil, dan penuh kasih agar anak tetap dapat tumbuh dengan baik—meskipun bentuk keluarganya sudah berubah.
