menu
logo mobile
sound
Yupi Surprise Yupiland Store Meet Your Heroes Collaborations Blog What's Happening Our Story Cool Pics Here Say Hi! FAQ It's Game Time Terms & Condition

Contoh Dongeng Parabel Singkat dan Pesan Moral di dalamnya

Kenali contoh dongeng parabel Indonesia, bukan hanya kaya pesan moral tapi juga menjadi perumpamaan yang masih hidup dalam percakapan hingga kini.

Yupiers, tahu nggak sih apa itu dongeng parabel?

Meskipun namanya mirip, parabel berbeda dengan fabel. Biasanya, dalam dongeng fabel melibatkan hewan-hewan sebagai tokoh dalam cerita. Sementara parabel menekankan pada pengandaian untuk menyampaikan ajaran agama atau moral tertentu.

Pernah mendengar seseorang disebut Malin Kundang ketika dianggap durhaka kepada orang tua? Atau menggunakan nama Bandung Bondowoso dari kisah Roro Jonggrang untuk menggambarkan pekerjaan sulit yang harus dikerjakan dalam waktu singkat?

Keduanya bisa menjadi contoh dongeng parabel yang terus hidup hingga kini untuk menggambarkan situasi kita sehari-hari.

Secara sederhana, parabel adalah cerita yang menyampaikan pesan moral, nilai kehidupan, atau pelajaran tertentu melalui sebuah kisah. Pembaca tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga diajak memahami makna yang ada di balik tindakan para tokohnya.

Beberapa contoh dongeng parabel yang Yumin rangkum, bisa Yupiers temukan selengkapnya dalam artikel di bawah ini.

1. Malin Kundang: Perumpamaan untuk Anak yang Durhaka

Asal: Sumatera Barat

Malin Kundang adalah seorang anak yang hidup sederhana bersama ibunya. Ketika dewasa, ia memutuskan pergi merantau untuk mengubah nasib. Setelah bertahun-tahun, Malin berhasil menjadi saudagar kaya dan menikah dengan perempuan dari keluarga berada.

Suatu hari, kapal Malin berlabuh di kampung halamannya. Mengetahui anaknya pulang, sang ibu segera datang untuk menyambutnya.

Namun, Malin Kundang justru malu mengakui perempuan tua tersebut sebagai ibunya. Ia bahkan menolak dan memperlakukannya dengan kasar. Sang ibu yang sakit hati kemudian berdoa kepada Tuhan. Tidak lama setelah itu, badai menghantam kapal Malin dan ia dikisahkan berubah menjadi batu.

Cerita ini kemudian dikaitkan dengan batu yang berada di kawasan Pantai Air Manis, Padang.

Unsur parabel terlihat dari nasib Malin yang menjadi gambaran konsekuensi dari perilaku durhaka.

Karena pesan tersebut begitu kuat, nama Malin Kundang sampai sekarang digunakan sebagai perumpamaan bagi anak yang durhaka kepada orang tuanya.

Dengan kata lain, ketika seseorang mengatakan, “Jangan jadi Malin Kundang,” orang tidak perlu menjelaskan keseluruhan cerita. Nama tokohnya saja sudah cukup untuk menyampaikan sebuah pesan moral.

Pesan Moral

Pesan utama cerita Malin Kundang adalah jangan durhaka kepada orang tua dan jangan melupakan asal-usul ketika sudah mencapai kesuksesan.

Kekayaan dan status sosial seharusnya tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang yang telah merawat dan membesarkannya.

2. Si Kabayan: Belajar dari Kelucuan dan Kemalasan

Asal: Jawa Barat

Si Kabayan merupakan tokoh dalam dongeng Sunda yang muncul dalam banyak cerita. Ia biasanya digambarkan sebagai sosok yang polos, malas, tetapi juga cerdik dan sering menggunakan akalnya untuk menghadapi situasi.

Salah satu kisahnya menceritakan ketika Kabayan diminta mencari tutut atau siput sawah. Alih-alih langsung bekerja, Kabayan malah mencari berbagai alasan agar tidak perlu turun ke sawah.

Tingkahnya yang terlihat konyol justru menjadi sumber kelucuan dalam cerita. Namun, di balik kelucuan tersebut terdapat sindiran terhadap kebiasaan manusia yang suka menghindari pekerjaan dan mencari alasan.

Unsur parabel dalam cerita Si Kabayan muncul melalui humor dan sindiran.

Pembaca dibuat tertawa melihat tingkah Kabayan, tetapi pada saat yang sama diajak bercermin terhadap perilaku sendiri. Apakah kita pernah malas melakukan sesuatu lalu mencari alasan untuk membenarkannya?

Inilah kekuatan cerita Si Kabayan: pesan moral tidak disampaikan dengan menggurui, tetapi melalui kelucuan dan perilaku tokohnya.


Pesan Moral

Cerita Si Kabayan mengajarkan bahwa kemalasan dan kebiasaan mencari alasan dapat membuat seseorang justru mengalami kesulitan sendiri.

Namun, Kabayan tidak selalu digambarkan sebagai tokoh bodoh. Ia sering kali memiliki kecerdikan yang membuatnya mampu menghadapi orang lain atau situasi tertentu.

3. Roro Jonggrang: Perumpamaan untuk Permintaan yang Sulit

Asal: Jawa Tengah

Roro Jonggrang adalah putri Prabu Baka yang dikisahkan bertemu dengan Bandung Bondowoso, ksatria dari Kerajaan Pengging yang menewaskan ayahnya. 

Bandung Bondowoso ingin menikahi Roro Jonggrang. Namun, Roro Jonggrang sebenarnya tidak ingin menerima lamaran tersebut. Ia kemudian memberikan sebuah syarat yang dianggap hampir mustahil: Bandung Bondowoso harus membangun 1.000 candi dalam satu malam.

Dengan bantuan makhluk gaib, Bandung Bondowoso hampir menyelesaikan tugas tersebut. Roro Jonggrang kemudian menggunakan tipu daya dengan menciptakan suasana seolah-olah pagi telah tiba. Para makhluk gaib pun berhenti bekerja sebelum candi ke-1.000 selesai.

Bandung Bondowoso yang mengetahui tipu daya tersebut menjadi murka dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi bagian terakhir yang melengkapi candinya. 

Legenda ini kemudian dikaitkan dengan asal-usul Candi Prambanan.

Unsur parabelnya dapat ditemukan pada syarat membangun 1.000 candi dalam satu malam.

Saking terkenalnya kisah tersebut, Roro Jonggrang dapat menjadi perumpamaan ketika seseorang memberikan permintaan atau target yang sangat sulit untuk diwujudkan.

Misalnya, ketika seseorang meminta sesuatu yang harus selesai dengan cepat dan sempurna, orang lain dapat menjawab, “Memangnya aku Bandung Bondowoso yang bisa bikin seribu candi semalam?”

Artinya, cerita tersebut telah melampaui fungsi sebagai dongeng dan menjadi rujukan untuk menggambarkan situasi dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan Moral

Cerita ini dapat dimaknai sebagai pelajaran mengenai konsekuensi dari tipu daya, ambisi, dan tindakan yang dilakukan demi mencapai tujuan.

4. Bawang Merah dan Bawang Putih: Kontras antara Baik dan Buruk

Asal: Nusantara

Bawang Putih adalah seorang gadis yang dikenal baik dan rajin. Setelah ibunya meninggal, ia tinggal bersama ayah, ibu tiri, dan saudara tirinya, Bawang Merah.

Berbeda dengan Bawang Putih, Bawang Merah dan ibunya digambarkan memiliki sifat malas, iri, dan suka memperlakukannya dengan buruk.

Suatu hari, Bawang Putih pergi mencari pakaian ibu tirinya yang hanyut di sungai. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang nenek yang kemudian memberinya sebuah labu sebagai hadiah.

Ketika dibuka, labu tersebut ternyata berisi emas dan perhiasan.

Bawang Merah dan ibunya yang mengetahui hal tersebut menjadi iri. Mereka mencoba melakukan hal yang sama, tetapi karena didorong oleh keserakahan, mereka justru mendapatkan balasan yang tidak menyenangkan.

Seseorang sebaiknya tidak melakukan kebaikan hanya demi mendapatkan hadiah.

Unsur parabelnya terlihat sangat jelas melalui kontras antara dua tokoh utama.

Bawang Putih menjadi gambaran sifat baik, sementara Bawang Merah menjadi gambaran sifat buruk. Keduanya seperti dua sisi yang sengaja ditempatkan berdampingan agar pembaca dapat melihat konsekuensi dari masing-masing pilihan.

Tidak mengherankan jika sampai sekarang Bawang Merah dan Bawang Putih sering digunakan sebagai perumpamaan untuk menggambarkan kebaikan dan kejahatan. 

Pesan Moral

Cerita ini mengajarkan bahwa kebaikan, ketulusan, dan kesabaran membawa konsekuensi yang berbeda dari keserakahan dan iri hati.

5. Si Kancil dan Buaya: Kecerdikan Menghadapi Masalah

Asal: cerita rakyat Nusantara

Si Kancil dikenal sebagai tokoh yang cerdik dalam berbagai cerita rakyat Nusantara. Salah satu kisah yang paling terkenal adalah pertemuannya dengan sekumpulan buaya.

Suatu hari, Kancil ingin menyeberangi sungai. Namun, di dalam sungai terdapat banyak buaya yang bisa membahayakan dirinya.

Kancil kemudian menggunakan kecerdikannya. Ia mengatakan kepada para buaya bahwa dirinya diperintahkan untuk menghitung jumlah buaya yang ada di sungai.

Para buaya kemudian berbaris dari satu sisi sungai ke sisi lainnya. Kancil melompat dari satu punggung buaya ke punggung buaya lain sambil berpura-pura menghitung. Setelah sampai di seberang, Kancil segera melarikan diri.

Ia berhasil menyeberangi sungai tanpa menjadi santapan buaya.

Kancil tidak memiliki kekuatan untuk melawan buaya. Ia juga tidak mungkin berlari melewati sungai. Pilihan yang tersisa adalah menggunakan akal.

Karena itu, kisah Kancil dan Buaya sering digunakan sebagai gambaran bahwa orang yang cerdik dapat menemukan jalan keluar ketika menghadapi masalah yang sulit.

Pesan Moral

Cerita ini dapat dimaknai sebagai pelajaran tentang pentingnya kecerdikan, kemampuan membaca situasi, dan menggunakan akal ketika menghadapi masalah.

Namun, ada sisi lain yang juga perlu diperhatikan. Kecerdikan Kancil dilakukan melalui tipu daya. Karena itu, cerita ini juga dapat menjadi bahan pembelajaran bahwa kepandaian sebaiknya digunakan secara bijaksana dan tidak untuk merugikan orang lain.

Dongeng yang Menjadi Perumpamaan

Kelima cerita tersebut menunjukkan bagaimana dongeng dapat memiliki kehidupan yang jauh lebih panjang daripada cerita aslinya. Sebuah tokoh atau kejadian bahkan bisa berubah menjadi perumpamaan untuk menjelaskan perilaku sehari-hari.

Malin Kundang menjadi simbol anak durhaka. Si Kabayan menggambarkan kemalasan sekaligus kecerdikan yang dikemas dengan humor. Roro Jonggrang dapat menjadi perumpamaan untuk permintaan yang sulit diwujudkan. Bawang Merah dan Bawang Putih menjadi gambaran kontras antara sifat baik dan buruk.

Yang membuat cerita-cerita tersebut tetap dikenang bukan hanya tokoh dan jalan ceritanya, melainkan maknanya yang masih relevan hingga hari ini. 

Mana cerita favorit Yupiers?

Home Our Story Events Games Profile