menu
logo mobile
sound
Yupi Surprise Yupiland Store Meet Your Heroes Collaborations Blog What's Happening Our Story Cool Pics Here Say Hi! FAQ It's Game Time Terms & Condition

Cara Mengajari Anak Mengungkapkan Perasaannya

Yuk belajar mengasah kemampuan emosional anak, mulai dari mengajari cara mengungkapkan perasaannya.

Yupiers pernah denger nggak sih ada orang tua yang bilang, “Mana mejanya yang nakal, nanti mama pukul ya bikin adek jatuh.” Ketika anak menangis karena kesakitan setelah tersandung, kalimat tersebut menjadi yang pertama digunakan oleh orang tua untuk menenangkannya. 

Kadang, orang tua ingin cepat menghentikan tangis anak tanpa mencari tahu emosi anak di balik tangisnya. Padahal menangis memang adalah respons yang umum anak-anak berikan, namun bisa jadi kebutuhan dan emosi di tiap tangisan berbeda. 

Respons seperti ini mesti disadari oleh orang tua yang ingin memiliki anak dengan kecerdasan emosional yang mumpuni.

Yupiers mau tahu nggak seperti apa respons yang lebih baik ketika menghadapi anak yang sedang emosional, supaya mereka merasa aman mengungkapkan perasaannya. Hal ini bisa jadi fondasi kecerdasan emosional mereka di masa mendatang. 

Baca juga: 10 Tips Parenting untuk Membentuk Karakter Baik pada Anak 

Mengapa Anak Perlu Didorong untuk Mengungkapkan Perasaannya?

Emosi seringkali merupakan ekspresi kenyamanan atau ketidaknyamanan yang dialami anak. Ada banyak emosi, mulai dari senang, nyaman, marah, sedih, takut, kecewa, jengkel, jijik, dan lain sebagainya. 

Mengajari anak untuk mengungkapkan perasaannya bukan sekadar biar anak lebih ekspresif

Kemampuan anak memahami, mengungkapkan, dan meregulasi emosinya memiliki dampak besar pada perkembangan emosi dan perilakunya. Dalam jangka panjang, hal ini juga akan berpengaruh pada hubungan sosial mereka di masa mendatang. 

Dalam psikologi anak, ini terkait dengan emotional development dan emotion regulation—dua hal penting yang memengaruhi bagaimana anak memahami diri sendiri dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini menjadi tanggung jawab orang tua untuk melatih kecerdasan emosional anak.

1. Mulai dari hal paling dasar: bantu anak memberi nama perasaannya

Anak tantrum atau ‘meledak’ bukan karena mereka nakal, tapi karena mereka nggak tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Mereka merasakan emosi yang intens tapi tidak bisa mengungkapkan dan meregulasinya. Anak merasa kecewa harus berhenti bermain di playground, lalu tantrum. Anak marah karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan, tantrum. Anak ngantuk tapi tidak bisa tidur karena tidak nyaman pun bisa jadi tantrum.

Di sinilah peran kita penting. Kita bisa bantu mereka memberi label pada emosi.

Contoh simpel:

“Kamu kelihatan kesal ya karena mainannya diambil.”

“Kayaknya kamu lagi kecewa, ya?”

Menurut penelitian dalam psikologi anak (termasuk pendekatan dari John Gottman tentang emotion coaching), ketika orang tua membantu anak menamai emosi, anak jadi lebih cepat belajar mengenali dan mengatur perasaannya.

Ketika anak tantrum, pastikan dia dapat mengekspresikan emosinya dengan aman, tidak menyakiti dirinya maupun orang di sekitarnya. Setelah itu, dampingi untuk mengenali emosinya.

2. Validasi perasaan, bukan langsung menghakimi

Kita mungkin sering dengar dari media sosial tentang memvalidasi perasaan anak. Validasi perasaan anak artinya tidak mengecilkan perasaan mereka dengan mengatakan, “Ah, gitu aja nangis”, misalnya. 

Bagi kita mungkin memang gitu aja. Padahal, buat anak, perasaan mereka itu besar. Posisi kita saat ini adalah mesti berempati dan membantu anak menavigasi perasaan besarnya dengan baik. 

Tapi validasi bukan berarti setuju dengan semua perilaku mereka, tapi mengakui bahwa perasaan itu ada.

Contoh:

“Mama tahu kamu marah banget.”

Dari sudut pandang psikologi, validasi ini penting karena membantu anak merasa aman secara emosional (emotional safety). Anak yang merasa perasaannya diterima cenderung lebih terbuka untuk bercerita.

Kalau perasaan mereka sering dianggap sepele, mereka justru belajar untuk menekan emosi—yang nanti bisa muncul dalam bentuk lain (misalnya jadi lebih agresif atau menarik diri).

3. Jadi role model (penting banget)

Anak belajar bukan dari apa yang kita bilang, tapi dari apa yang kita lakukan.

Kalau kita ingin anak bisa mengungkapkan perasaan dengan sehat, kita juga perlu menunjukkan bagaimana caranya.

Misalnya:

  • “Mama lagi capek hari ini, jadi mama butuh istirahat sebentar ya.”
  • “Papa tadi sempat kesal, tapi sekarang sudah lebih tenang.”

Dengan cara ini, anak belajar:

  1. Orang dewasa juga punya emosi
  2. Emosi itu bisa diungkapkan tanpa marah-marah atau meledak

Dalam teori social learning (Albert Bandura), anak meniru perilaku yang mereka lihat. Jadi, tanpa sadar, kita adalah “buku panduan hidup” mereka.

4. Ajarkan cara mengekspresikan emosi dengan aman

Mengungkapkan perasaan itu penting, tapi caranya juga perlu diajarkan.

Misalnya:

  • Boleh marah → tapi tidak boleh memukul
  • Boleh sedih → boleh menangis
  • Boleh kesal → boleh bilang “aku nggak suka”

Kita bisa bantu dengan memberi alternatif:

“Kalau kamu marah, kamu bisa bilang ‘aku marah’ atau tarik napas dulu.”

“Kalau kesal, boleh cerita ke mama.”

Pendekatan ini sejalan dengan konsep emotion regulation dalam psikologi anak yaitu kemampuan mengelola emosi tanpa melukai diri sendiri atau orang lain.

5. Jangan paksa anak langsung cerita

Kita memang ingin mengajari anak untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, kadang saat kita pengen banget anak “terbuka”, mereka justru diam. 

Sabar ya Ayah dan Ibu. 

Beberapa anak butuh waktu untuk memproses perasaan mereka. Kalau dipaksa, mereka bisa makin menutup diri.

Yang bisa kita lakukan:

  • Tetap hadir
  • Kasih tahu bahwa kita siap mendengarkan
  • Tunggu momen yang tepat

Contoh:

“Kalau kamu sudah siap cerita, mama ada ya.”

Ini membangun secure attachment—ikatan emosional yang membuat anak merasa aman untuk kembali ketika mereka siap.

6. Gunakan bantuan visual atau permainan 

Bantuan visual atau dongeng bisa dikenalkan mulai bayi lho. Jangan ragu untuk mengenalkan bermacam emosi kepada anak sejak dini.

Beberapa ide yang bisa dicoba:

  • Kartu emosi (senang, sedih, marah, takut)
  • Menggambar perasaan
  • Bermain peran (role play)

Pendekatan ini sering digunakan dalam terapi anak karena lebih sesuai dengan cara mereka memahami dunia, yaitu lewat dongeng dan permainan.

Baca juga: 10 Cerita Rakyat Bahasa Inggris Terkenal Beserta Terjemahannya! 

7. Konsistensi itu kunci

Ini bukan sesuatu yang bisa “langsung berhasil” dalam seminggu.

Mengajarkan anak mengenali dan mengungkapkan emosi adalah proses jangka panjang. Kadang kita sudah merasa melakukan semuanya dengan benar, tapi anak masih tantrum juga.

Dalam proses ini, penting sekali untuk kompak, bukan hanya ibu dan ayah. Kalau anak diasuh oleh pengasuh, nenek, atau kerabat lain, semuanya perlu kompak untuk mengajarkan cara mengungkapkan emosi. 

Ini mungkin menantang, tapi perlu diusahakan ya. 

Kalau dipikir-pikir, banyak dari kita sebagai orang dewasa saja masih belajar mengelola emosi. Jadi wajar kalau anak butuh waktu untuk belajar.

Tapi perlu diingat ya, cara ini bukan untuk bikin anak selalu tenang atau mau diajak kerja sama ya. Kita sedang mengajari dan mendampingi mereka untuk mengenal emosinya dan bisa mengungkapkan dengan sehat.

Semua itu bisa dimulai dari hal sederhana: hadir, mendengarkan, dan tidak menganggap remeh perasaan mereka.

Karena pada akhirnya, anak yang bisa memahami emosinya akan lebih mudah membangun hubungan yang sehat, percaya diri, dan tangguh menghadapi dunia.

Home Our Story Events Games Profile